AKUNTANSI PERUBAHAN HARGA (BAB 10) AKUNTANSI
INTERNASIONAL
AKUNTANSI UNTUK PERUBAHAN HARGA
Dalam merancang akuntansi yang akan diterapkan dalam suatu
lingkungan ekonomik tertentu, perlu ditentukan struktur atau rerangka akuntansi
pokok yang menghasilkan statemen keuangan dasar. Rerangka akuntansi pokok akan
menentukan batas pengakuan transaksi sehingga data yang masuk
dalam statemen keuangan dasar akan merupakan informasi yang minimal harus
dipenuhi dalam pelaporan keuangan. Informasi tambahan atau pelengkap merupakan
bagian dari usaha untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan. Informasi pelengkap
akan menambah keberpautan informasi akuntansi sementara kualitas objektivitas
dan keterujian masih tetap terjaga dalam statemen keuangan dasar.
Berbagai usulan akuntansi untuk memperbaiki kelemahan
akuntansi berbasis kos dapat diadopsi oleh rerangka akuntansi pokok tanpa harus
mengganti struktur akuntansinya. Akuntansi perubahan harga merupakan bagian
dari pelaporan keuangan untuk mencapai tujuan penyajian informasi keuangan.
Kalau konsep pemrosesan data dapat dipisahkan dengan proses pelaporan data maka
akuntansi perubahan harga tidak perlu mengganti rerangka akuntansi pokok. Paton
dan Littleton menyatakan bahwa informasi perubahan harga akan
berkurang manfaatnya atau maknanya atau bahkan tidak bermanfaat samasekali
tanpa disertai dengan informasi atas dasar kos historis. Perubahan harga adalah
perbedaan jumlah rupiah yang dapat digunakan untuk membeli barang atau jasa
yang sama pada waktu yang berbeda. Rerangka akuntansi pokok didasarkan pada
asumsi bahwa daya beli uang stabil sepanjang masa. Kos dianggap merepresentasi
nilai. Dalam keadaan terjadi perubahan harga, kos historis dipertahankan karena
alasan keterandalan (keobjektifan pengukuran dan keterujian data). Dalam
kondisi perubahan harga sangat mencolok, keberpautan informasi dengan keputusan
menjadi berkurang, Agar kualitas keterandalan (reliabilitas) dan keberpautan.
(relevansi) dapat dicapai, rerangka akuntansi pokok harus dilengkapi dengan
informasi perubahan harga untuk menunjukkan pengaruhnya terhadap laba dan
posisi keuangan.
Perubahan harga menimbulkan masalah bagi akuntansi dalam hal
penilaian, unit pengukur, dan pemertahanan kapital.
Masalah penilaian berkaitan dengan dasar yang harus digunakan untuk mengukur
nilai pos pada suatu saat. Masalah unit pengukur berkaitan dengan perubahan
daya beli akibat perubahan tingkat harga umum. Masalah pemertahanan capital
berkaitan dengan pengertian laba sebagai selisih dua kapital yang harus
ditentukan jenisnya; financial atau fisis.
Berkaitan dengan perubahan harga, pos-pos statemen keuangan
dapat dikategori menjadi pos moneter dan nonmoneter. Pos-pos moneter berkaitan
dengan masalah untung atau rugi daya beli sedangkan pos-pos nonmoneter
berkaitan dengan untung atau rugi penahanan. Perubahan harga terdiri atas
perubahan harga umum, spesifik, dan relatif. Perubahan harga umum mencerminkan
perubahan nilai tukar atau daya beli uang. Perubahan harga spesifik
mencerminkan perubahan karakteristik barang tertentu akibat, teknologi atau
selera terhadap barang. Perubahan harga, relatif mencerminkan perubahan harga
spesifik setelah pengaruh perubahan harga umum diperhitungkan. Perubahan harga
tersebut mempunyai implikasi yang berbeda terhadap akuntansi kos historis.
Perubahan harga umum dapat menimbulkan untung atau rugi daya
beli yang tidak tampak dalam akuntansi kos historis. Perubahan harga spesifik
menimbulkan untung atau rugi penahanan yang melekat pada laba kos historis.
Untung atau rugi daya beli merupakan informasi untuk membantu pemakai dalam
menentukan laba ekonomik. Untung atau rugi penahanan merupakan informasi untuk
membantu pemakai dalam menilai kinerja perusahaan dan manajemen yang
sesungguhnya. Laba dapat dipisahkan antara yang dihasilkan oleh kegiatan
operasi dan oleh semata-mata kegiatan penahanan aset. Secara umum, masalah
penilaian diatasi dengan akuntansi kos sekarang dengan berbagai variasinya.
Masalah unit pengukur diatasi dengan akuntansi daya beli konstan dengan
berbagai variasinya. Akuntansi kos sekarang/daya beli konstan atau akuntansi
hibrida mengatasi kedua masalah sekaligus.
Secara khusus, berbagai model akuntansi ditawarkan untuk
mengatasi masalah perubahan harga. Tiap model merupakan hasil interaksi antara tiga faktor penentu
laba dalam konteks perubahan harga yaitu dasar penilaian, definisi kapital, dan
skala pengukuran. Berkaitan dengan dasar pengukuran, kalau kos sekarang
digunakan sebagai dasar, dua perubahan akan tampak. Pertama, laba akan terbagi
menjadi dua komponen yaitu laba, akibat kegiatan operasi perusahaan dan laba
akibat kegiatan menahan kapital fisis. Kedua, untung atau rugi yang belum
terealisasi akibat penahanan aset dimasukkan dalam statemen laba-laba. Konsep
ini bertentangan dengan akuntansi kos historis yang mendasarkan diri pada
realisasi untuk mengakui pendapatan. Kalau dasar pengukuran adalah harga jual
sekarang maka laba dapat dipandang sebagai aliran dana bersih (terealisasi
maupun harapan) yang masuk dalam perusahaan akibat perubahan harga pasar
potensi jasa. Laba, bukan merupakan jumlah rupiah yang timbul karena kegiatan
menghasilkan laba (earning process). Walaupun demikian, masih dapat juga
digunakan simbol seperti pendapatan, kos barang terjual, dan biaya untuk
menunjuk aliran masuk dan keluarnya dana.
http://julaita.blogspot.com/2014/05/akuntansi-perubahan-harga-bab-10.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar